Friday, January 29, 2016

7 Filosofi Jawa Yang Patut Dijadikan Renungan

Pulau Jawa adalah peradaban yang paling maju diantara pulau-pulau lainnya yang ada di Indonesia. Sejak zaman kerajaan sampai sekarang pulau Jawa tetap dengan ciri khasnya yaitu renungan. Apa itu renungan? renungan adalah penghayatan tentang makna kehidupan orang Jawa. Maka dari itu orang jawa memiliki filosofi hidup yang wajib diketahui dan dipahami oleh generasi muda.

7 Filosofi Jawa Yang Patut Dijadikan Renungan

Berikut ini 7 Filosofi Jawa Yang Patut Dijadikan Renungan:

1.Urip Iku Urup (Hidup Itu Nyala)
Maksud dari nasehat ini, hidup ini hendaknya bisa memberikan manfaat kepada orang lain yang berada di sekitar kita, sama seperti lampu yang ketika hidup bisa membarikan cahayanya untuk menerangi lingkungan di sekitarnya. Jangan sebaliknya keberadaan kita malah membuat ketidaknyamanan orang yang berada di lingkungan tempat tinggal kita.

2. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak)

Sifat angkara murka dan tamak adalah awal dari kerusakan moral yang harus dijauhi, karena efeknya akan sangat buruk bila orang sudah terkena penyakit tamak. Jadi selain kita harus mengusahakan kesejahteraan dan kebahagaian keluarga, kita juga harus ikut berperan memerangi sifat angkara murka.

3. Ojo Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi)
Terpedaya dengan kehidupan duniawi, mungkin itulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan kehidupan dijaman ini, semua aspek selalu diukur dari segi material. Banyak orang yang terpadaya dengan kedudukan dan nafsu sehingga menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuanya, Oleh karena itulah orang tua saya dulu selalu memberikan nasehat ini. Seharusnya kita sudah harus sadar bahwa kehidupan dunia ini adalah sementara jadi jangan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

4. Ojo Kuminter Mundak Keblinger, Ojo Cidro Mundak Ciloko (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka)
Merasa paling bisa dan paling pandai adalah tabiat yang tidak baik, karena bisa membuat kita sombong dan juga malas untuk mengupgrade diri.

5. Wong Jowo Kuwi Gampang Ditekak-tekuk (Orang Jawa itu mudah dibentuk) 
Ini adalah peribahasa yang berarti orang jawa itu mudah dibentuk, ungkapan ini menunjukan fleksibilitas dari orang jawa yang sangat mudah menyesuaikan diri dan mudah bergaul di lingkungan tempat tingalnya. Orang yang memegang filosofi ini akan selalu giat bekerja dan selalu ulet dalam meraih cita-citanya.

6. Mangan Ora Mangan Sing Penting Ngumpul (Makan tidak makan yang penting kumpul)
Filosofi ini merupakan peribahasa, jadi kurang tepat rasanya kalo mengartikanya hanya berdasarkan terjemahan tekstual saja. Filosofi ini bisa diartikan lebih luas, misal untuk kehidupan berdemokrasi seperti saat ini, dan jika demokrasi kita berpegang pada filosofi ini saya yakin kehidupan bangsa kita akan lebih baik. ‘Mangan ora mangan’ melambangkan eforia demokrasi, yang mungkin satu pihak mendapatkan sesuatu (kekuasaan) dan yang lain pihak tidak, yang tidak dapat apa-apa tetap legowo. ‘Sing penting ngumpul’ melambangkan berpegang teguh pada persatuan, yang artinya bersatu untuk tujuan bersama.Saya pikir Filosofi ‘Mangan ora mangan sing penting kumpul’ adalah filosofi yang cocok yang bisa mendasari kehidupan demokrasi bangsa Indonesia agar tujuan bangsa ini tercapai.

7. Nrimo Ing Pandum (Menerima Pemberian Dari Yang Kuasa)
Filosofi ini merupakan hal yang sangat sukai karena hal ini mengajarkan kita untuk bersikap jujur, ikhlas, dan menerima dengan lapang dada apapun hasil dari usaha yang telah dikerjakan.

= > Silahkan berkomentar sesuai artikel di atas
= > Berkomentar dengan url (mati/ hidup) tidak akan dipublish
EmoticonEmoticon