Informasi Pendidikan Indonesia

Kemendikbud Merevisi Buku Kurikulum K-13 80%

Beberapa tahun yang lalu pemerintah mengeluarkan kurikulum 2013 (K-13) sebagai pengganti kurikulum KTSP. Banyak praktisi pendidikan yang menilai bahwa K-13 dipaksakan dan belum pas dengan sistem pendidikan di Indonesia. Sepertinya pergantian kurikulum menjadi ciri khas setiap pergantian menteri pendidikan.

Pada masa kepemimpinan Joko Widodo, dengan menteri pendidikan Anies Baswedan menghentikan K-13 sampai batas waktu yang telah ditentukan. Ternyata kemendikbud melakukan revisi besar-besaran terhadap K-13 termasuk buku ajarnya.

Kemendikbud Merevisi Buku Kurikulum K-13  80%

Dikutip dari Kompas Edukasi - Kepala Bidang Perbukuan Pusat Kurikulum dan Perbukuan Balitbang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Supriyatno, mengatakan, pihaknya melakukan revisi secara besar-besaran terhadap buku-buku Kurikulum 2013 (K13).

Paling banyak perubahan adalah tematik SD kelas satu hingga enam. Akibat perubahan kompetensi inti dan kompetensi dasar maka perubahan buku-buku tersebut hingga 80 persen," ujar Supriyatno dalam diskusi di Jakarta, Kamis (7/1/2016), seperti dikutip Antara.

Bahkan untuk mata pelajaran matematika kelas 12, perubahan bukunya nyaris 100 persen. Sebanyak 10 bab buku harus diganti, termasuk penempatan dari yang sebelumnya semester satu menjadi semester dua. Ada juga yang diajarkan di SMP, diajarkan untuk SMA. Itu terjadi untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika,kata Supriyatno.

Baca: Kurikulum K-13 Segera Digunakan Kembali di Tahun 2016

Revisi buku tersebut, lanjut dia, dilakukan berdasarkan perbaikan dari para ahli dan masyarakat yang tuntas pada akhir Oktober 2015. Pada prinsipnya, lanjut dia, perubahan tidak menghilangkan kompetensi inti satu dan dua, tetapi menempatkan kompetensi inti satu dan dua sebagai payung khusus untuk mata pelajaran di luar agama dan PPKN.

Kemudian dari perbaikan kompetensi inti dan kompetensi dasar itu, kami melakukan perbaikan buku yang selama ini beredar di sekolah,kata Supriyatno. Dia menyebut, pihaknya melakukan revisi sebanyak 377 buku dan dipastikan bisa selesai pada Februari 2016. Harapannya, buku-buku tersebut dapat digunakan tahun ajaran 2016/2017. Berbeda dengan tahun sebelumnya, Kemdikbud tidak menggunakan metode seperti tahun sebelumnya. Buku-buku yang selesai direvisi itu diunggah dan pemerintah akan menerapkan harga eceran tertinggi.

Baca: Kurikulum Nasional Sebagai Pengganti K-13

Siapapun boleh menggandakan buku tersebut dengan mengacu terhadap ketentuan buku harga eceran tertinggi. Media, percetakan, distributor, bahkan masyarakat secara individu yang punya modal boleh menggandakan buku tersebut dan bisa dijual kepada sekolah ataupun masyarakat sesuai dengan harga eceran tertinggi, tukas dia.

0 komentar:

Post a Comment

= > Silahkan berkomentar sesuai artikel di atas
= > Berkomentar dengan url (mati/ hidup) tidak akan dipublish

 

Recent Post

Indoamaterasu

Teknologi