Monday, October 31, 2016

Larangan Memberi PR Oleh Mendikbud

Dari dulu hingga sekarang masih banyak dijumpai guru yang memberikan Pekerjaan Rumah (PR) kepada anak didiknya. Alasannya juga beragam, ada yang mengatakan untuk membiasakan siswa belajar di rumah dengan mengerjakan tugas-tugas sekolah.

Metode ekspositori (ceramah) masih dierapkan oleh guru kepada peserta didik. Padahal dengan ceramah siswa menjadi cepat bosan dan ngantuk, pembelajaran serasa tidak ada gairahnya. Biasanya diakhir pertemuan kelas guru memberikan PR setelah ceramah.


Guru yang tidak mau update tentang pekembangan siswa dalam belajar pasti tidak mau berubah dan mempertahankan metode ceramah sebagai cara terbaik. Padahal bagi siswa metode tersebut sangat membosankan dan perlu diganti. Siswa lebih suka pembelajaran yang disertai video audio karena cepat ditangkap otak.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy meminta para guru untuk bekerja lebih baik lagi karena pemerintah telah meningkatkan kesejahteraan guru. Dia mengingatkan agar para guru tidak hanya memberikan ceramah lalu memberikan pekerjaan rumah (PR) untuk siswanya. Guru-guru‎ harus sadar, pemerintah sudah mengeluarkan dana begitu besar untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Timbal balik dari itu adalah guru harus mengajarkan siswa lebih baik lagi. Jangan hanya cuap-cuap habis itu kasih PR, tegas Muhadjir yang dikutip dari JPNN (29/10/16).

Mantan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini juga mengatakan, dengan standar kemapanan tinggi, guru harus bisa cepat menyesuaikan diri. Tidak ada istilahnya, guru bengong di sekolah dan tidak mengerjakan apa-apa selain memberikan tugas kepada siswa. Guru tidak ada pilihan lain selain bekerja baik karena sudah menikmati kemapanan. Jangan hanya‎ datang memberikan ceramah dan memberikan tugas, kata Muhadjir.

Menurut Muhadjir, sudah puluhan tahun siswa dan guru berada dalam pola pembelajaran yang salah. Pola itu akan diubah pelan-pelan meski nantinya banyak yang protes. Guru akan lebih banyak di luar kelas, melihat siswanya berkreasi. Guru juga harus mencermati benar-benar kemajuan siswa. Memang ini tidak mudah karena guru sudah sekian puluhan tahun menikmati hidup enak dengan pola pembelajaran salah, kata Muhadjir.


EmoticonEmoticon